Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

..Organisasi yang diprakarsai oleh Lafran Pane pada tanggal 05 Februari 1947 dengan tujuan untuk mempertahankan bayi kemerdekaan Republik Indonesia dan Menyebarkan Ajaran Islam di kalangan Mahasiswa : hidup HMI - Bahagia HMI - Jayalah HMI..

Selasa, 10 Januari 2012

Merajut Cita


“Jeritan Jiwa Yang Gelisah Untuk Mimpi Indah Dalam Sebuah Himpunan Penuh Cinta”

 Oleh : Aiz Ali Al Taftajaniy [Tim Kajian Lingkar Studi Insan Cita]*

Bismillahirrahmaanirrahiim

Salam sejahtera semoga senantiasa kita sekalian selalu berada dalam naungan Rahmat dan Hidayah Allah Azza Wajalla Jalaluh sehingga Dia Dzat yang kita yakini serta apa yang menjadi titah-Nya kita usahakan dengan segenap daya dan kekuatan yang diberikan-Nya dengan harapan sampai semuanya dan dibalas oleh-Nya dengan apa yang kita sebut dengan Ridho dan Surga-Nya. Begitulah kita diajarkan untuk tetap yakin usaha sampai dalam filosofis berfikir kita. Shalawat serta salam akan selalu didendangkan keharibaan Muhammad SAW yang telah mengajarkan kita Nilai - Nilai Dasar Perjuangan sehingga memudahkan kita dalam menjalankan titah Tuhannya untuk menjadi wakil wakil terbaik Tuhan dimuka bumi ini seperti yang dititahkannya lewat Adam a.s.

Ada beberapa hal yang dirasa kering kerontang dalam perjalanan perjuangan ini, semuanya terjebak dalam kubangan kepentingan serta kemunafikan kedok himpunan pada diri kita pribadi baik disadari atau tidak itulah dan inilah yang sekarang sedang menjadi apa yang kemudian disebutkan oleh Rakanda Agus Salim Sitompul sebagai The Sick Man From Yogyakarta (seseorang yang sakit dari Yogya). Dalam kesempatan kali ini coba akan kita selidiki sedikit saja tentang beberapa sumbangan yang diharapkan bisa bermanfaat bagi jiwa para kader yang bersumpah setia untuk membumikan Himpunan Mahasiswa Islam dengan semangat yang tentunya disorong bukan hanya dengan modal semangat tetapi juga memang dengan modal yang cukup untuk menunjang nilai yang telah diajarkan serta cita cita luhur yang diharapkan lewat “Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi…”.


Berfikir Kreatif

Berfikir adalah proses kerja otak dalam menghadapi masalah-masalah yang relatif baru. Masalah-masalh tersebut menuntut pendekatan dan penyelesian baru, yangt belum dirumuskan sebelumnya. Karena itu proses berfikir dan hasil-hasilnya berbeda seklai dengan gerak naluriah (instinktif), dimana yang terakhir ini terdapat baik pada hewan ataupun manusia. Sampai sekarang hanya manusialah diantara makhluk-makhluk ini yang bis meyakinkan kepemikirannya diatas daya instinktif tadi; artinya hanya manusialah yang memiliki potensi untuk tanggap terhadap masalah-masalah baru. Karena itu kata kreatif dalam berfikir kretif pada dasarnya tidak perlu. Dalam proses berpikir sendiri sudah inherent adanya tuntutan bagi pendekatan dan penyelesaian yang tidak rutin. Dia hanya punya arti penekanan terhadap hakekat proses berpikir yang membedakan manusia dengan binatang, komputer atau robot.

Berpikir kreatif berhubungan langsung dengan adanya kebudayaan. Kebudayaan ada karena manusia “bertindak” terhadap lingkungannya. Tingkatan bertindaknya manusia atau seseorang, menunjukan tingkat kebudayaan yang dicapinya. Proses bertindak itu diporosi oleh proses berpikir. Karena itu hanya manusia yang berkebudayaan, termasuk mengubah “nature” menjadi “culture” untuk memberikan “comfort” yang lebih besar kepadanya.

Adakah hubungan uraian di atas dengan eksistensi atau aktivitas suatu organisasi? Dengan kesadaran budaya seperti di atas, kita akan terbawa pada suatu sikap bahwa organisasi sebagaimana kita warisi dari pendahulu-pendahulu kita, kini menjadi obyek kita sebgai manusia berbudaya. Artinya warisan tersebut tidak akan kita terima begitu saja (menirukan dan meneruskan pengurus yang sudah lalu), melainkan kita olah lebih lanjut dan kita tingkatkan efektivitas kerjanya. Maslah yang terjadi dalam masyarakat selalu berkembang, karena itu pengurus yang punya “kesadaran kebudayaan” akan senantiasa mempertimbangakan perlunya cara-cara penyelesaian dan aktivitas yang baru. Mungkin cara-cara rapat perlu dirubah, mungkin cara-cara penyelenggaraan pertemuan harus dirombak, mungkin tata pembagian kerja dalam kepengurusan perlu diperbaharui, mungkin training-training tidak diperlukan lagi, mungkin organisasi kita ini perlu dipertegas lagi hak hidupnya dan mungkin juga sebaliknya yaitu tidak diperlukan lagi atau dibubarkan, jadi kesadaran sebagi makhluk berkebudayaan menyuruh kita mencari kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih baik daripada kemungkinan yang telah ada. Sekarang apakah hubungannya dengan proses pembangunan nasioanl yang sedang kita lakukan sekarang ini? Apakah hubungan berpikir kreatif dengan kesejateraan pegawai negeri, perbaikan administrasi pemerintahan, peningkatan produksi beras, penekanan jumlah penduduk, pengembangan ilmu pengetahuan, perbaikan pendidikan anak-anak, dan lain sebaginya! Persoalannya ialah hawa problem-problem masyarakat sepertia di atas tidak bisa diselesaikan hanya dengan modal kejujuran dan iktikad baik serta penuh rasa pengebdian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar