Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

..Organisasi yang diprakarsai oleh Lafran Pane pada tanggal 05 Februari 1947 dengan tujuan untuk mempertahankan bayi kemerdekaan Republik Indonesia dan Menyebarkan Ajaran Islam di kalangan Mahasiswa : hidup HMI - Bahagia HMI - Jayalah HMI..

Sabtu, 14 Januari 2012

Mencari Tuhan : Apa dan Bagaimana

Agama (baca: Islam) tentu saja bukan cuma mengajarkan tatacara beribadah atau incnyci ukan segenap kebaikan moral. Agamajuga berbicara tentang keharusan untuk memahami segala sesuatu secara rasional (masuk akal).

Dalam sejumlah ayat al-Quran, kita acapkali menjumpai pernyataan yang dimaksudkan untuk mengingatkan manusia tentang kemampuan rasio yang dimilikinya; afalâ ta’qilûn, afalâ yatafakkarûn, dsb.

Keharusan semacam ini tentunya tanpa kecuali, termasuk terhadap keberadaan agama itu sendiri. Dengan kata lain, suatu agama belum tentu bisa dibenarkan sepenuhnya (sekalipun memiliki ajaran moral-etis yung begitu menyentuh) kalau tidak memiliki pembenaran logis bagi keberadaannya.


Acapkali kita begitu terpengaruh terhadap kebenaran sebuah agama (Islam ataupun bukan) hanya lantaran seruan moralnya yang begitu mengharu biru. Atau lantaran sejarahnya yang begitu mengagumkan. Padahal, di balik semua itu, boleh jadi terpendam kekeliruan yang sudah sedemikian busuk ihwal keabsahan dirinya secara logis. Dengan kata lain, pesona moral dan sosial yang ditampakkan lebih sebagai upaya untuk menyelubungi irasionalitas keberadaannya.

Pertanyaan-pertanyaan seperti; dari mana asal-usul kehidupan; apa sesungguhnya kenyataan itu; bagaimana kesudahan hidup itu; dan seterusnya jelas harus dijawab oleh agama, yang dalam hal ini mengklaim dirinya mutlak benar dan memiliki pengetahuan absolut dan transenden (melampaui kenyataan profan dan imanen di dunia). Dan persoalan terpenting lagi adalah tentang apa atau siapa sebenamya Tuhan itu.

Sebab, dalam kacamata agama apapun (tentunya terlepas dari penamaannya secara harfiah), Tuhan merupakan konsep dasar yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Tanpa konsep ketuhanan, dengan sendirinya agama akan kehilangan legitimasi superiornya. Agama menjadi tak ubahnya sekumpulan noima-norma sosial belaka, tanpa orientasi spiritual apapun.

Dengan begitu, pengenalan terhadap Tuhan secara masuk akal menjadi kemestian yang tak bisa ditolak. “Apakah Tuhan itu ada? Di manakah Tuhan bersemayam? Tunggalkah Tuhan? Adilkah? Mungkinkah kita mengenal Tuhan kita?” Jawaban atas seluruh pertanyaan tersebut pada gilirannya tentu akan menjadi tolok ukur kedalaman keyakinan serta keagamaan kita. Dalam Islam, segenap persoalan yang menyangkut Pernahaman rasional tentang eksistensi Tuhan ditelaah dalam pembahasan aqidah (ihwal keyakinan secara ilmiah).

*) Sebuah Pengantar Dari Buku Mencari Tuhan Karya Prof. Muhsin Qiroatii

Tidak ada komentar:

Posting Komentar