Agama (baca:
Islam) tentu saja bukan cuma mengajarkan tatacara beribadah atau incnyci ukan
segenap kebaikan moral. Agamajuga berbicara tentang keharusan untuk memahami
segala sesuatu secara rasional (masuk akal).
Dalam sejumlah
ayat al-Quran, kita acapkali menjumpai pernyataan yang dimaksudkan untuk
mengingatkan manusia tentang kemampuan rasio yang dimilikinya; afalâ ta’qilûn,
afalâ yatafakkarûn, dsb.
Keharusan
semacam ini tentunya tanpa kecuali, termasuk terhadap keberadaan agama itu
sendiri. Dengan kata lain, suatu agama belum tentu bisa dibenarkan sepenuhnya
(sekalipun memiliki ajaran moral-etis yung begitu menyentuh) kalau tidak
memiliki pembenaran logis bagi keberadaannya.
Acapkali kita begitu
terpengaruh terhadap kebenaran sebuah agama (Islam ataupun bukan) hanya
lantaran seruan moralnya yang begitu mengharu biru. Atau lantaran sejarahnya
yang begitu mengagumkan. Padahal, di balik semua itu, boleh jadi terpendam
kekeliruan yang sudah sedemikian busuk ihwal keabsahan dirinya secara logis.
Dengan kata lain, pesona moral dan sosial yang ditampakkan lebih sebagai upaya
untuk menyelubungi irasionalitas keberadaannya.
Pertanyaan-pertanyaan
seperti; dari mana asal-usul kehidupan; apa sesungguhnya kenyataan itu;
bagaimana kesudahan hidup itu; dan seterusnya jelas harus dijawab oleh agama,
yang dalam hal ini mengklaim dirinya mutlak benar dan memiliki pengetahuan
absolut dan transenden (melampaui kenyataan profan dan imanen di dunia). Dan
persoalan terpenting lagi adalah tentang apa atau siapa sebenamya Tuhan itu.
Sebab, dalam
kacamata agama apapun (tentunya terlepas dari penamaannya secara harfiah),
Tuhan merupakan konsep dasar yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Tanpa konsep
ketuhanan, dengan sendirinya agama akan kehilangan legitimasi superiornya.
Agama menjadi tak ubahnya sekumpulan noima-norma sosial belaka, tanpa orientasi
spiritual apapun.
Dengan begitu, pengenalan terhadap Tuhan secara
masuk akal menjadi kemestian yang tak bisa ditolak. “Apakah Tuhan itu ada? Di
manakah Tuhan bersemayam? Tunggalkah Tuhan? Adilkah? Mungkinkah kita mengenal
Tuhan kita?” Jawaban atas seluruh pertanyaan tersebut pada gilirannya tentu
akan menjadi tolok ukur kedalaman keyakinan serta keagamaan kita. Dalam Islam,
segenap persoalan yang menyangkut Pernahaman rasional tentang eksistensi Tuhan
ditelaah dalam pembahasan aqidah (ihwal keyakinan secara ilmiah).
*) Sebuah Pengantar Dari Buku Mencari Tuhan Karya Prof. Muhsin Qiroatii
Tidak ada komentar:
Posting Komentar